Pengertian Pasar Oligopoli Adalah : Ciri - Ciri, Contoh, Beserta Struktur Pasarnya - Kudupinter

11 Mei 2020

Pengertian Pasar Oligopoli Adalah : Ciri - Ciri, Contoh, Beserta Struktur Pasarnya

Daftar Isi Artikel [Tutup]

    Pasar Oligopoli -  Pada kesempatan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa berdasarkan sifat dan bentuknya, pasar dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu: pasar persaingan sempurna (perfect competitive market) dan  pasar dengan persaingan tidak sempurna (imperfect competitive market). Salah satu jenis pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar oligopoli.

    Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas secara lengkap semua hal terkait dengan pasar oligopoli berdasarkan pendekatan beberapa teori dan juga disertai kurva - kurva untuk memudahkan dalam pemahaman.

    Pengertian Pasar Oligopoli Adalah



    Pasar oligopoli adalah suatu bentuk pasar yang terdapat beberapa penjual dimana salah satu atau beberapa penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar ( price leader ). Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh. Pasar oligopoli juga dapat di definisikan sebagai suatu bentuk persaingan pasar yang didominasi oleh beberapa produsen atau penjual dalam satu wilayah area.

    Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.

    Di Indonesia pasar oligopoli dapat dengan mudah kita jumpai, misalnya pada pasar semen, pasar layanan operator selular, pasar otomotif serta pasar yang bergerak dalam industri berat. Contoh industri yang termasuk oligopoli adalah industri semen di Indonesia, industri mobil di Amerika Serikat, dan sebagainya.

    Ciri - Ciri Pasar Oligopoli


    Berikut adalah ciri pasar oligopoli yang membedakannya dengan jenis pasar yang lainnya:

    1. Harga Produk yang dijual Relatif Sama

    Harga produk yang ada dalam pasar oligopoli relatif sama. Hal tersebut dikarenakan harga atas suatu produk  yang beredar di pasar merupakan harga yang ditentukan oleh perusahaan leader. Sedangkan perusahaan lainnya bersifat menerima harga yang ditetapkan oleh perusahaan leader. hal inilah yang menyebabkan harga dalam pasar oligopoli relatif sama.

    2. Pembedaan Produk yang Unggul Merupakan Kunci Sukses

    Kesuksesan dalam pasar oligopoli tergantung pada inovasi kreatif sebuah perusahaan dalam menciptakan yang lebih bermanfaat dan beda dengan perusahaan lain dalam pasar oligopoli. Dengan begitu, perusahaan tersebut akan lebih memiliki nilai tawar yang akan berpengaruh terhadap harga dalam pasar tersebut. Semakin inovatif sebuah perusahaan dalam pasar oligopi, maka akan semakin dekat dengan kesuksesan dalam pasar oligopoli.

    3. Perusahaan Baru Sulit Masuk Pasar 

    Pasar oligopoli hampir mirip dengan pasar monopoli dan bertentangan dengan pasar pasar monopolistik. Didalam pasar oligopoli terdapat banyak halangan yang mempersulit perusahaan lain masuk kedalam pasar.  Hal ini disebabkan oleh:
    • Karena modal yang diperlukan relatif besar kalau dibandingkan dengan mendirikan perusahaan dalam pasar persaingan sempurna.
    • Karena perusahaan itu harus menciptakan barang produksi yang bercorak beda dengan barang produksi yang telah beredar dahulu di pasaran. Dan mempromosikannya pada masyarakat untuk mendapat pelanggan, dan dengan promosi tersebut, perusahaan harus dapat meyakinkan pelanggan akan mutu barang tersebut.

    4. Perubahan Harga akan diikuti Perusahaan Lain

    Perubahan harga di pasar oligopoli umumnya terjadi di tingkat perusahaan yang berstatus sebagai leader dan kemudian di ikuti oleh perusahaan lain. Sebenarnya, kondisi pasar yang demikian adalah turunan dari pasar monopoli, dimana jumlah produksi yang dihasilkan oleh perusahaan dalam pasar monopoli tersebut tidak dapat memenuhi permintaan, sehingga perusahaan tersebut memberikan kesempatan pada perusahaan lain untuk masuk kedalam pasar  dan menerima harga yang telah ditentukan oleh perusahaan leader. Kondisi yang demikian disebut dengan pasar oligopoli.

    Kelebihan dan Kekurangan Pasar Oligopoli


    A. Kelebihan Pasar Oligopoli

    Konsumen Mendapat Kebebasan Memilih

    Layaknya pasar persaingan sempurna, konsumen dapat menentukan kepada siapa ia akan membeli produk yang di butuhkannya. Namun kondisinya tidak sepenuhnya seperti pasar persaingan sempurna. Konsumen tidak harus memperoleh produk yang dibutuhkan hanya pada satu produsen, namun bisa ke produsen lain walaupun perusahaan lain itu bukan perusahaan leader dalam pasar oligopoli. Semua tergantung nilai, pelayanan, minat, dan kepuasan konsumen.

    Meningkatkan Aktifitas Penelitian dan Pengembangan Perusahaan

    Kunci sukses dalam pasar oligopoli yang telah disampaikan di bagian awal adalah inovasi perusahaan dalam menghasilkan produk yang lebih bermanfaat kepada para konsumen. Inovasi tersebut diperoleh melalui kegiatan penelitian dan pengembangan produk.

    Penelitian - penelitian yang dimaksud meliputi penelitian tentang minat konsumen, kepuasan konsumen, tanggapan konsumen, dan lain sebagainya. Dengan penelitian yang demikian, perusahaan dapat mengevaluasi serta dapat merencanakan strategi pemasaran yang lebih efisien sehingga kepuasan konsumen akan tercapai.

    Baca juga : Strategi Pemasaran dan Pengertian Pemasaran

    Perusahaan Lebih Berorientasi Pada Kepuasan Konsumen

    Kepuasan konsumen menjadi kunci penting dalam keberhasilan pasar secara umum dan khususnya dalam pasar oligopoli ini. Karena kepuasan konsumen dianggap sebagai ujung tombak dari aktifitas pemasaran. Tingkat kepuasan yang maximal akan berdampak positif terhadap perusahaan, dimana para konsumen akan terus menggunakan produk yang dihasilkan oleh perusahaan dan akan lebih loyal kembali di masa yang akan datang dengan produk - produk terbaru. Startegi yang sering digunakan dalam menggapai tingkat kepuasan maxima adalah Strategi Marketing Mix (Bauran Pemasaran) dan juga Segmentasi Pasar

    Adanya Penerapan Teknologi Baru

    Teknologi akan berpengaruh positif perkembangan perusahaan baik di produksi, pemasaran, dan lain sebagainya. Begitu juga dalam pasar oligopoli ini, penerapan teknologi yang baik dalam perusahaan akan memberikan diferensiasi produk yang lebih spesifik dan benilai. Dengan begitu produk yang dihasilkan akan lebih memiliki nilai tambah dan dapat lebih memberikan kepuasan konsumen. Selain itu, penerapan teknologi terbaru dapat memudahkan perusahaan untuk mengembangkan produknya agar lebih di minati.

    B. Kelemahan Pasar Oligopoli

    Harga Yang Terlalu Tinggi dapat Mendorong Timbulnya Inflasi

    Pasar oligopoli merupakan pasar dengan jumlah konsumen yang banyak dan jumlah produsen yang sedikit serta ada satu perusahaan leader yang bertindak sebagai penentu harga. Fluktasi harga faktor produksi juga akan berdampak pada harga produk yang dihasilkan dalam pasar tersebut. Perubahan harga yang ditentukan oleh perusahaan leader akan diikuti oleh perusahaan lain (bersifat penerima harga). Penetapan harga yang tinggi oleh perusahaan leader akan dengan cepat mengakibatkan inflasi karena harga tersebut diikuti perusahaan lain.

    Dapat Menimbulkan Biaya Produksi Tidak Efisien

    Perusahaan - perusahaan yang bukan leader dalam pasar akan menerima resiko kurang efisien dalam biaya produksi seperti  biaya produksi yang besar namu pemasukan tidak seimbang. Hal tersebut dikarenakan umumnya apabila ada dua atau lebih perusahaan yang mempunyai satu produk kerjasama akan menimbulkan sedikit penghasilan namun biaya produksi yang sama. akibatnya biaya produksi dan penghasilan perusahaan tersebut goyan dan bisa menyebabkan kurang efisien dalam biaya produk (boros).

    Dapat Menimbulkan Eksploitasi Konsumen

    Walaupun pengusaha oligopoli tidak dapat menetapkan harga yang sewenang-wenang dalam menjual produk yang dihasilkannya, namun jika dibandingkan dengan harga penjualan pada pasar dengan persaingan (murni atau sempurna), maka harga penjualan pada pasar oligopoli lebih tinggi daripada harga penjualan pada persaingan sempurna. Kelebihan harga penjualan itu dalam buku-buku teori ekonomi seringkali disebut eksploitasi (exploitation).

    Dapat Berkembang Ke Arah Monopoli

    Bentuk pasar oligopoli dapat berkembang kearah monopoli jika sudah tidak ada yang perusahaan lain mampu bersaing atau membantu perusahaan leader. Jika hal ini teradi, maka perusahaan leader akan memegang penuh penwaran produk dalam pasar oligopoli , dan kondisi yang demikian akan merubah status oligopoli menjadi monopoli. Karena hanya ada satu perusahaan yang menguasai pasar. Namun hal ini akan sulit terjadi jika tidak ada campur tangan pemerintah.

    Struktur Pasar Oligopoli



    Pada dasarnya ada teori pokok yang dikemukakan dalam menganalisa pasar oligopoli ini, yakni: (1) antara satu pengusaha satu dengan pengusaha lainnya dalam pasar oligopoli tidak terdapat suatu ikatan tertentu (independent action), (2) antara pengusaha-pengusaha yang turut dalam pasar oligopoli itu terdapat suatu ikatan (collusion) tertentu. Bentuk ikatan itu ada yang sempurna (perfect collusion) dan ada yang tidak sempurna  (imperfect collusion)

    1.  Pengusaha Bebas Dalam Menentukan Tindakan

    Salah satu akibat dari pada bebasnya masing-masing pengusaha oligopoli dalam menentukan kebijaksanaan masing-masing, baik dalam hal harga penjualan dan kapasitas produksi maupun dalam hal lain-lain, ialah timbulnya perang harga antara sesama perusahaan oligopoli itu. Timbulnya perang harga ini dapat dianalisa sebagai berikut:

    Seorang pengusaha menurunkan harga untuk memperbesar jumlah penjualannya. Tetapi tindakannya itu berarti menarik pembeli dari pengusaha lain yang membawa akibat kepada pengusaha lain dalam bentuk berkurangnya jumlah pembeli bagi mereka. Oleh sebab itu merekapun turut menurunkan harga penjualan agar jumlah pembeli meningkat kembali.

    Malah kalau perlu harga penjualan yang dilakukan lebih rendah lagi dari harga pengusaha yang menurunkan harga mula-mula tadi. Akhir daripada perang harga ini ialah membawa kehancuran bagi beberapa perusahaan tertentu yang turut dalam pasar produk yang oligopoli itu.

    Kalau analisa  ini dilanjutkan dengan pertanyaan kenapa ada diantara pengusaha itu yang mau menurunkan harga penjualannya, maka jawabannya ialah, karena ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Salah satu faktor ialah karena pengusaha tersebut mempunyai taksiran yang salah mengenai tindakan yang akan diambil saingannya, akibat perbuatan yang akan dijalankannya. Ini mungkin terjadi karena pengusaha tersebut masih baru atau belum lagi berpengalaman dalam pasar oligopoli.

    Tetapi walaupun suatu pengusaha itu telah berpengalaman cukup, ada juga kemungkinan pengusaha itu menurunkan harga penjualannya. Hal itu dilakukannya, karena persediaan produknya yang melebihi permintaan dan gudang untuk penyimpanan tidak ada atau ongkos gudang sangat tinggi, hingga ia bersedia menurunkan harga agar seluruh produk yang telah dihasilkannya terjual habis.

    Sekarang sampai dimana kemampuan suatu pengusaha oligopoli untuk dapat mengikuti perang harga itu, tergantung kepada produk yang dihasilkan dan biaya yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut. Bila produk yang dihasilkan adalah homogen, sehingga pasar produk adalah oligopoli murni, maka tiap-tiao pengusaha oligopoli itu hanya akan turut dalam perang harga sampai batas keuntungan normal (normal profit).

    Kalau produk yang dihasilkan tidak homogen (oligopoli yang dibedakan), maka batas ikut sertanya dalam perang harga itu ialah pada tingkat harga dimana biaya rata-rata (AC) sama dengan nilai produk rata-rata (NPR).


    Perang Harga Bagi Pengusaha Oligopoli

    Gambar a memperlihatkan keadaan suatu perusahaan dengan persaingan oligopoli murni dalam perang harga. Pengusaha itu hanya akan turut dalam perang harga sampai harga sebesar P1 dengan kapasitas produksi sebesar Y1 satuan, pada saat harga produk sama besar dengan biaya rata-rata. 

    Jika harga turun lagi lebih rendah daripada  P1 pengusaha tersebut terpaksa menghentikan perusahaannya, karena dalam jangka panjang perusahaannya akan menderita kerugian. Dalam batas harga sebesar P1 dengan kapasitas produksi sebesar Y1 itu, pengusaha masih memperoleh keuntungan normal (normal profit). Tetapi jika harga lebih rendah lagi akan menderita kerugian dalam jangka panjang.

    Gambar b memperlihatkan suatu perusahaan yang menghasilkan produk dengan pasar oligopoli yang dibedakan. Batas harga yang dapat dia ikuti dalam perang harga yang terjadi adalah pada harga P2  dengan kapasitas produksi sebanyak Y2 satuan, pada saat harga sama dengan biaya rata-rata. 

    Tetapi kapasitas produksi sebesar Y2 masih di bawah kapasitas produksi optimum, sebab batas kapasitas produksi optimum ialah pada saat biaya rata-rata sama dengan biaya marjinal. Bila harga lebih rendah dari harga P2, perusahaan itu terpaksa pula ditutup karena biaya rata-rata telah lebih besar daripada produk rata-rata yang diperolehnya.

    2. Penggabungan Sempurna

    Selanjutnya akan kita bicarakan tentang teori penggabungan sempurna (perfect collusion). Teori ini mengasumsikan bahwa masing-masing pengusaha produk dengan pasar bersaingan oligopolistik itu merupakan bagian dari suatu industri. 

    Atau dengan perkataan lain semua perusahaan oligopoli itu menggabungkan diri secara sempurna menjadi suatu perusahaan besar, misalnya suatu kartel. Dengan asumsi itu, semua kebijaksanaan, terutama dalam hal menentukan harga dan kapasitas produksi diatur oleh kartel itu. Dengan demikian kartel itu merupakan suatu perusahaan monopoli murni yang anggotanya terdiri dari beberapa perusahaan oligopoli.

    Dengan teori ini, penentuan harga dan kapasitas produksi masing-masing perusahaan ditentukan dengan jalan mencari kapasitas produksi dan harga penjualan kartel yang merupakan perusahaan monopoli murni itu. Permintaan bagi kartel adalah permintaan pasar, sedang biaya marjinalnya merupakan jumlah biaya marjinal seluruh perusahaan oligopoli yang bergabung dalam kartel itu. Dengan diketahuinya permintaan pasar dapatlah dihitung nilai produk marjinal kartel. 

    Dan karena syarat bagi suatu perusahaan monopoli murni agar tercapai keuntungan maksimum, kapasitas produksi harus dijalankan sedemikian rupa sehingga biaya marjinal kartel sama dengan nilai produk marjinal (MC = MR) dapatlah ditentukan kapasitas produksi dan harga penjualan kartel. Harga penjualan kartel juga merupakan harga penjualan bagi perusahaan oligopoli yang bergabung dalam kartel itu.

    Kapasitas masing-masing perusahaan oligopoli yang bergabung dalam kartel itu dapat ditentukan dengan jalan memnuhi syarat seperti rumus berikut, yaitu:

    MRk = MC1 = MC2 = ............................... = MCn        (1)

    Dimana:
    MRk = nilai produk marjinal kartel
    MC1, MC2, ................., MCn = biaya marjinal masing-masin perusahaan yang tergabung dalam kartel tersebut. 

    Untuk jelasnya marilah kita perhatikan Gambar di bawah ini

     
    Penentuan Harga dan Kapasitas Produksi Perusahaan Oligopoli Bergabung Sempurna

    Gambar diatas menunjukkan keadaan suatu kartel, dimana kurva M adalah kurva permintaan pasar produk Y yang dihasilkan oleh kartel tersebut. Dengan demikian kurva MR merupakan kurva nilai produk marjinal kartel.

    Kurva MC ialah kurva biaya marjinal kartel yang merupakan penjumlahan horisontal dari biaya marjinal seluruh perusahaan oligopoli yang bergabung dalam kartel tersebut. Jadi kapasitas produksi kartel adalah sebesar Yk produk dengan harga penjualan sebesar P rupiah untuk setiap satuan produk yang dihasilkan.

    Gambar b dan c menunjukkan keadaan dua buah perusahaan oligopoli yang bergabung sempurna dalam kartel tersebut dengan biaya produksi yang berbeda antara  satu sama lainnya seperti digambarkan oleh kurva-kurva MC1 dan AC1 (Gambar b) dan MC2 dan AC2 (Gambar c). Maka kapasitas produksi masing-masing perusahaan oligopoli yang bergabung dalam kartel tersebut haruslah dijalankan sedemikian rupa sehingga:

    MRk = MC1 = MC  (sesuai rumus 1)

    Dalam Gambar  diatas, nilai MRk, MC1dan MC2 itu harus sama dengan r rupiah, dimana dengan nilai ini kapasitas produksi masing-masing perusahaan itu ialah sebesar Y1 satuan (Gambar b) dan Y2 satuan (Gambar c). Harga penjualan masing-masing perusahaan sama dengan harga penjualan kartel yaitu sebesar P rupiah untuk setiap produk yang mereka hasilkan.

    Karena struktur pembiayaan masing-masing perusahaan berbeda, maka tidak hanya kapasitas produksi yang berbeda, tetapi juga keuntungan yang diperoleh masing-masing perusahaan turut berbeda yaitu sebesar C1P x Y1 rupiah untuk perusahaan yang satu (Gambar b) dan sebesar C2P x Y2 rupiah untuk perusahaan yang satu lagi (Gambar c). Keuntungan yang diperoleh sebagai kartel ialah jumlah keuntungan semua perusahaan yang menjadi anggota kartel tersebut, sehingga dapat pula dirumuskan:

    πk = π1 + π2 + ....................+ πn             (2)

    Dimana:
    π  = keuntungan
    k   = kartel
    1,2,............,n ialah perusahaan pertama, kedua, ......perusahaan ke-n

    Begitu juga jumlah produk yang dihasilkan kartel merupakan jumlah semua produk yang dihasilkan oleh seluruh perusahaan yang tergabung dalam kartel tersebut, atau dengan rumus:

    Yk = Y1 + Y2 + ......................+ Yn           (3)

    Perbedaannya dengan perusahaan oligopoli yang bebas melakukan kebijaksanaan ialah sbb:
    Pada perusahaan oligopoli yang bergabung secara sempurna dalam kartel, keuntungan maksimum diperoleh kartel, sedang bagi masing-masing perusahaan anggota kartel tidaklah selalu maksimum seperti terlihat pada Gambar c, dimana MR2 tidak sama dengan MC2, sedang syarat keuntungan maksimum bagi perusahaan tersebut haruslah MR2 = MC2. 

    Bagi perusahaan oligopoli tanpa penggabungan masing-masing pengusaha mengadakan taksiran tentang biaya perusahaan-perusahaan saingannya dan menaksir jumlah permintaan pasar. Dari hasil penaksiran itu, masing-masing mereka menjalankan kebijaksanaan produksi dengan kapasitas sedemikian rupa sehingga masing-masing perusahaan mendapatkan keuntungan maksimum agar tercapai kesetimbangan harga pasar. 

    Atau dengan kata lain, permintaan pasar dibagi kepada seluruh pengusaha oligopoli sedemikian rupa hingga permintaan bagi masing-masing pengusaha menghasilkan keuntungan maksimum pada harga kesetimbangan pasar yang diharapkan, seperti telah kita bahas selengkapnya dalam membicarakan pasar dengan persaingan duopolistik terdahulu.

    3. Penggabungan Tidak Sempurna

    Teori pasar oligopoli selanjutnya akan dianalisa dengan menggunakan asumsi bahwa diantara pengusaha-pengusaha oligopoli yang menghasilkan produk yang homogen, terjadi juga penggabungan, tetapi penggabungan itu secara diam-diam, bukan dengan membentuk kartel seperti yang telah diuraikan. Karena itu sifat penggabungan tersebut dinamakan tidak sempurna (imperfect collusion). 

    Keadaan pasar oligopoli yang demikian digambarkan sbb: Dari sekian banyak perusahaan yang ikut dalam pasar oligopoli itu, salah satu diantaranya secara tidak langsung ditunjuk sebagai pengusaha yang menentukan harga (price leader). 

    Munculnya pengusaha yang mengendalikan harga penjualan itu adalah karena diantara semua pengusaha oligopoli dialah pengusaha yang terbesar baik dalam permodalan, maupun dalam hal pemasaran hasil produk. Maka oleh sebab itu pengusaha yang merupakan price leader itu, menentukan kapasitas produksi usahanya seperti seorang pengusaha monopoli murni. Cuma saja karena produk yang dihasilkannya kurang dari jumlah permintaan pasar, maka sisa permintaan pasar itu diserahkanya kepada pengusaha-pengusaha oligopoli lainnya yang idanggap sebagai pengikut tidak langsung dari pengusaha price leader tadi. 

    Oleh sebab itu kapasitas produksi masing-masing pengikut tadi dijalankan sedemikian rupa sehingga: 

    MRph = MCph                      (4)

    PY = Mph = Mps = MC1 = MC2 =........= MCn (5)

    Dimana:
    MRph = nilai produk marjinal pengendali harga
    MCph = biaya marjinal pengusaha pengendali harga
    PY = harga penjualan produk Y untuk setiap satuan produk
    Mph = permintaan bagi pengusaha pengendali harga
    Mps = permintaan pasar
    MC1, MC2,.....= MCn = biaya marjinal masing-masing pengusaha pengikut

    MCph = ∑MCp (6)

    dimana ∑MCp adalah penjulahan horisontal biaya marjinal perusahaan pengikut.

    Mps    = Mph + ∑Mp            (7)

    dimana ∑Mp adalah penjumlahan horisontal permintaan bagi semua pengusaha pengikut. 

    Rumus-rumus (1), (2), (3) dan (4) diatas akan lebih jelas terlihat bila digambarkan dalam suatu grafik seperti terlihat pada Gambar dibawah ini.

    Penentuan Harga dan kapsitas Produksi Perusahaan-Perusahaan Oligopoli Yang Bergabung Tidak Sempurna (imperfect collusion)

    Dari Gambar diatas dapat dilihat bahwa pembentukan harga pasar produk didapatkan dengan jalan menjadikan perusahaan pengendali harga sebagai pengusaha monopololi murni, sehingga kapasitas produksi perusahaan pengendalu harga itu adalah sebesar Yph satuan produk dengan harga penjualan PY rupiah untuk setiap satua produk yang dihasilkan (MRph = MCph). 

    Setelah harga penjualan didapatkan, maka kapasitas produksi pengusaha-pengusaha pengikutnya dapat ditentukan dengan jalan asumsi bahwa diantara masing-masing pengusaha pengikut terdapat persaingan sempurna, hingga kapasitas produksi masing-masing pengusaha pengikut dapat dicapai dengan menentukan PY = MCp. Dengan syarat ini didapatkanlah kapasitas produksi pengikut yang jumlah seluruhnya adalah sebesar Yp satuan. Dari grafik itu juga terlihat bahwa Yph + Yp = Yps.

    Bila kita menginginkan berapa kapasitas produksi masing-masing pengikut pada harga yang telah ditentukan pengusaha pengendali harga itu, perhatikanlah Gambar di bawah ini.



    Gambar a memperlihatkan situasi pengusaha pengendali harga (price leader). Gambar b dan c menunjukkan situasi dua perusahaan pengikut pengusaha pengendali harga. Perbedaannya jelas terlihat pada kurva permintaan bagi masing-masing perusahaan itu. 

    Bagi pengusaha pengendali harga kurva permintaan baginya adalah seperti kurva permintaan pengusaha monopoli, yaitu kurva yang miring turun dari kiri ke kanan, sedang kurva permintaan bagi pengusaha pengikut adalah sejajar dngan sumbu horisontal.

    Bila pengusaha pengendali harga menginginkan keuntungan maksimum maka kapasitas produksi yang dijalankannya adalah sebesar Yph dengan harga penjualan sebesar PY rupiah untuk setiap satuan produk yang dihasilkan. Harga ini menjadi ikutan pengusaha pengikutnya yang ditunjukkan oleh Gambar b dan c, dimana kapasitas produksi masing-masingnya adalah sebesar Y1 dan Y2 satuan (PY = MC1 = MC2).

    Kemudian bila pengusaha pengendali harga menurunkan harga penjualannya menjadi PY’ agar kapasitas produksinya dapat ditingkatkan (bila pembiayaan dan permintaan tetap keuntungan tidak lagi maksimum), maka perusahaan pengikutnya harus pula mengikuti penurunan harga walaupun hal itu mengakibatkan harus dikuranginya kapasitas produksi, masing-masingnya menjadi Y1’ dan Y2’.
    Penurunan harga itu masih dapat diikuti oleh pengikutnya karena masih menguntungkan perusahaan (bagi perusahaan pada Gambar c keuntungan yang diperoleh adalah keuntungan normal, karena PY’ = AC2) karena NPR masih lebih tinggi atau sama dengan AC masing-masing perusahaan.

    Contoh Pasar Oligopoli


    Salah satu contoh praktek pasar oligopoli yang mudah untuk kita temui dalam kehidupan sehari - hari adalah pasar oligopoli perusahaan genteng. Permintaan akan genteng kian waktu terus meningkat, namun kemampuan sebuah perusahaan genteng. Perusahaan tersebut hanya dapat memenuhi kebutuhan pasar hanya 70% dari total permintaan dalam suatu pasar. Hal inilah yang menjadi kesempatan perusahaan - perusahaan lain untuk masuk kedalam pasar tersebut selama aktifitas produksi masih dapat dianggap menguntungkan.i

    Misal perusahaan A  mampu memenuhi permintaan 70%, perusahaa B mampu 15%, perusahaan C 10%, dan perudahaan D hanya 5% saja. dan inilah yang disebut kondisi pasar oligopoli dengan perusahaan A sebagai leader pasar dan penentu harga. 
    Tinggalkan Komentar